expr:class='"loading" + data:blog.mobileClass'>
WELLCOME IN MY BLOG..DON'T FORGET TO LEAVE YOUR COMMENT!!

Kamis, 11 September 2014

mencarikanmu istri??

ternyata sudah sangat lama aku tidak menulis atau sekedar membuka blog ini. bukan karena semua baik-baik saja, sehingga tak ada yang perlu dibicarakan. namun karena waktu tidak memberiku kesempatan untuk menceritakan semua yang terjadi. selama ini banyak sekali hal- hal yang terjadi. hal-hal menyenangkan, menyedihkan, bahkan sampai yang konyol sekalipun. dan ada satu kejadian yang begitu terkesan untukku. baiklah.. aku akan menceritakannya untukmu..
Dari judulnya, tentu saja sudah ketebak. ini tentang permintaan. permintaan yang konyol untukku. tentang permintaan seseorang untuk mencarikan seorang istri.. hemm... ini memang tidak terjadi hari ii. tapi sudah beberapa saat yang lalu. namun karena aku tidak punya waktu untuk menulisnya diblogku, aku menuliskannya dicatatan ponselku. yahh bisa dibilang itu diary ku. kalian tau aplikasi apa yang digunakan. Evernote. yahh.. aku hanya akan menyalin dari catatan itu.. 
Saat itu tanggal ..... aku lupa, namun dicatatanku menunjukkan itu dibuat bulan Mei. begini isinya...
" Kau tau apa yang ia katakan padaku hari ini?
Hari ini memang menyenangkan, sangat menyenangkan. Bersama dengannya dari siang hingga malam (tentu masih dengan orang yang sama dengan curhatan di postingan sebelumnya, ntah mengapa, dia benar-benar membuatku gila). ya.. hari itu kuhabiskan waktuku bersamanya. melihatnya memakai jas yang mungkin sedikit menenggelamkan tubuhnya yang kecil. namun tetap tampak lebih gagah. hari ini aku ikut dengannya mengikuti vision seminar di UKDW. Demi membayar hutang waktu karena kemarin aku meminta waktunya untuk menjadi subjek wawancaraku. Meskipun terlihat terpaksa namun aku cukup senang. 
Dan hari ini di akhiri dengan makan malam bersamanya. "Sudah lama ya nggak makan sama kamu". satu ucapan yag membuatku senang. Memang, kita sudah lama tidak bersama. tentu masih ingat postinganku yang lalu. sejak saat itu. terhitung sudah hampir 5 bulan kita nggak saling bertemu. Ku pikir dia kangen makan bareng aku. kemudian kita lanjut mengobrol basa- basi. saat itu kita membahas tentang gaya pacaran beberapa temanku yang juga ia kenal. Llu ia tanya, kenapa aku nggak pacarn seperti kebayakan temen2ku. Jawabanku cukup simple, aku lebih suka berteman daripada pacaran. Rupanya, ia terus menggali. " Kalo ada yang nembak, kamu treima kan?" Hah.. kau pikir aku cewek apaan? ku jawab saja tidak. tiba-tiba ia nyelonong mengatakan " kayaknya cowok kemarin suka sama kamu". ya, saat ia datang untuk wawancara, tepat saat itu seorang cowok main ke kosku dan makan nasi goreng buatanku. saat itu, ekspresi dia datar. ntah apa yang dia pikirkan. Dan saat itu dengan pedenya dia bertanya " kalian pacaran??". itu membuatku diam. bukan karena aku bingung mau menjawab apa, tapi karena aku shock dengan pertanyaannya. Setelah itu dia meminta air minum, dan aku menuangkan air ke gelasnya. "kapan yah terakhir kamu perhatian sama aku kayak gini?". belum berakhir rasa terkejutku dengan pertanyaan pertamanya, kini di tambah lagi dengan pernyataannya. dan aku hanya bisa meringis.
Lanjut saat makan malam tadi.. Saat dia bilang begitu ("kayaknya cowok kemarin suka sama kamu") aku menjawab " ya biarin, itu kan hak dia". Dia diam sesaat. Dan tiba-tiba dia tanya " kamu punya kenalan temen cewek?". dengan pertanyaan itu, ku pikir ia mau dijadikan prospek. tapi pernyataan yang tak ku duga. "Aku ingin mencari pendamping hidup". katanya.. Saat itu hatiku terasa teriris-iris. Kau pikir aku mak jomlang atau kontak jodoh? kau menyuruh seseorang yang berharap jadi istrimu untuk mencarikanmu seorang istri untukmu????? Semua tersa gila. Lalu aku bercanda bahwa aku punya banyak kenaln gadis baik2. nanti akan kujodohkan denganmu. Dan dia menaggapi pernyataanku itu dengan serius. aku sungguh terbelalak. terkejut juga kecewa. Apa hatimu sungguh berasal dari batu. Hinggan kau sama sekali tidak peka. sungguh.... Meski saat itu aku sudah berusaha untuk mengalihkan pembicaraan. namun ia tetpa membicarakannya terus... dan aku... tidak tau harus bagaimana...

Selasa, 07 Januari 2014

Lebih Gila Dari Yang Lalu

Inikah jawaban dari begitu banyak pertanyaanku?
Inikah akhir dari kegilaanku?
Inikah yang ternyata akan terjadi setelah semua yang ku lalui?
Dan inikah ending yang diberikan sang waktu dari kisahku?
Aku tidak tahu,, tapi aku rasa memang begitu.
Meskipun ini tidak pernah ada di pikiranku sebelumnya.
Meskipun ini tidak pernah terlintas sedetikpun dalam benakku sebelumnya.
Dan ini akan menjadi hal yang sangat sulit untuk bisa diterima.
Namun aku harus mempercayainya, bahwa memang kenyataannya seperti itu.
Waktu telah menjawab semua pertanyaanku. Tapi ia tidak bisa mengakhiri kegilaanku, karena aku justru menjadi lebih gila dari sebelum itu.
Waktu telah menunjukkan apa yang terjadi setelah semua yang ku lalui. Tapi aku rasa ini sangat sulit, lebih sulit dari yang lalu.
Waktu telah memberikan ending dari kisahku. Tapi aku tidak bisa terima, karena bukan ini yang aku mau.
Jika dulu aku akan membiarkan semua berjalan apa adanya.
Jika dulu aku membiarkan sang waktu menjawabnya.
Jika dulu aku aku tidak akan menebak atau memikirkan endingnya.
Jika dulu aku tidak akan berusaha untuk menghakiminya atau menjalakannya sesuai kemauanku.
Jika dulu aku akan terima jika dia memang tidak harus bersamaku.

Aku ingin menarik semua hal itu dari pikiranku, andai itu diperbolehkan.
Karena aku ingin semua seperti yang aku mau.
Aku menjadi lebih lebih gila dari sebelumnya.
Kalian tau kenapa seperti itu?? Kenapa aku punya pikiran seperti itu??  Kenapa aku harus menjilat ludahku sendiri?? Kenapa aku ingin mengingkari apa yang sudah keluar dari mulutku ??
Karena inilah yang terjadi??
Akhirnya waktu membuatku tidak bisa bersamanya lagi seperti dulu. Tidak bisa dari semua waktuku habis bersamanya lagi. Tidak ada banyak hal yang bisa kulakukan bersamanya lagi. Dan tidak ada kata bertukar banyak pemikiran bersamanya lagi.
Jika dulu aku tidak perlu menunggu kedatangannya,karena setiap hari ia akan datang. Sekarang aku harus menunggu selama berhari-hari, itu pun dengan ketidak pastian.
Jika dulu aku tidak perlu menebak kapan ia akan datang, karena ia pasti akan datang. Sekarang aku harus menebak-nebak seperti menjawab teka-teki.
Jika dulu aku tidak perlu memikirkan apakah ia akan datang, karena ia juga pasti akan datang. Sekarang aku harus membuat otakku bekerja keras hanya untuk memikirkan semua itu.
Jika dulu aku tidak perlu gelisah hanya untuk bertemu dengannya, karena aku pasti akan bertemu. Sekarang hariku harus habis dengan perasaan itu.
Entah kenapa, tiba-tiba menjadi seperti itu. Aku pun tidak tahu kenapa justru itu yang terjadi.
Ia menjadi sangat sibuk di hari-harinya, sehingga bertemu denganku sudah tidak masuk dalam daftar jadwalnya. Jangankan bertemu, menghubungiku lewat telephon saja bisa di hitung jari.
Tidak hanya itu, ia menjadi tidak hangat lagi seperti dulu. Waktu bersamanya tidak sebahagia dulu. Bertatap mata dengannya tidak seindah dulu. Berjabat tangan dengannya tidak semanis dulu. Tertawa dengannya malah menggoreskan luka dihatiku. Berbicara dengannya menjadi hal canggung, aneh. Ia menjadi seseorang yangasing untukku.
Aku menjadi sangat jengkel setiap dengannya. Aku menjadi sangat marah dengannya. Bahkan karena saking marahnya aku, aku mengucapkan kata-kata yang sangat kasar dengannya. Dan mungkin itu membuatnya marah, tapi aku juga tidak tahu. Aku sudah berusaha minta maaf, tapi aku tidak tahu apa dia akan memaafkan. Pokoknya semua menjadi kacau, sangat kacau.. sesuatu yang tidak bisa aku mengerti, sangat tidak bisa. Sesuatu yang tidak bisa aku terima, sangat tidak terima.
Waktu,, bisakah kau kembalikan seperti yang dulu lagi?? Aku tidak mau seperti ini.
Bisakah kau biarkan waktuku habis bersamanya lagi?? Aku pun sangat rela.
Bisakah kau biarka aku melakukan banyak hal bersamanya lagi?? Aku merasa sendiri.
Bisakah kau biarkan aku bertukar pikiran tentang banyak hal bersamanya lagi ?? aku merasa sepi.
Aku benar-benar, sungguh-sungguh dan sangat-sangat menjadi lebih gila dari yang lalu....


Benar - Benar Gila



Akhir-akhir ini aku mulai menjadi gila karena seseorang. Dan lebih gilanya lagi, dia tidak pernah merasa kalau sudah membuat seseorang menjadi gila karenanya. Awal bertemu dengannya, semua mengalir begitu saja. Tidak ada yang hal yang aneh. Akupun menikmati semuanya. Melalui setiap waktuku bersamanya. Menjalani begitu banyak aktivitas bersamanya. Membicarakan berbagai banyak hal bersamanya.  Bertukar begitu banyak pemikiran bersamanya. Semua itu aku lakukan tanpa ada satupun hal yang ganjil didalamnya. Namun bersama berlalunya waktu, bersama itulah muncul sesuatu yang juga tidak aku mengerti. Sesuatu yang tidak bisa dicerna oleh otak dan logikaku. Sesuatu yang tidak bisa dipahami oleh hati. Sesuatu yang bahkan dari seluruh kata yang ada di kamus besar pun tidak bisa menggambarkannya.
Mungkin kalian berpikir “kamu pasti sudah jatuh cinta dengannya ?”
Dan aku akan menjawab “tidak, itu salah.” Tentu kalian semua sudah pernah mengalami jatuh cinta. Atau bahkan mungkin sedang mengalami hal tersebut saat ini. Dan kalian tahu bagaimana rasanya satu ungkapan tersebut. Begitupun denganku. Aku sudah berkali-kali mengalami, merasakan, dan menikmati satu ungkapan fenomenal itu. Dan berdasarkan pengalamanku, tidak seperti ini rasanya. Tidak seperti yang aku alami saat ini. Jauh berbeda. Inilah yang membuatku gila.
Aku tidak selalu bahagia setiap bersamanya.
Aku tidak selalu merasa berbunga-bunga setiap bersamanya.
Aku tidak selalu merasa nyaman setiap bersamanya.
Aku tidak selalu merasa senang setiap bersamanya.
Aku tidak selalu tertawa setiap bersamanya

Aku pernah kecewa dengannya.
Aku pernah merasa sakit hati karenanya.
Aku pernah merasa sangat kesal dengannya.
Aku pernah menjadi begitu marah dengannya.
Aku pernah malas dengannya.
Aku pernah merasa sangat bosan dengannya.
Aku bahkan pernah merasa tidak ingin bertemu dengannya... lagi...
Apa itu bisa dikatakan jatuh cinta? Aku rasa tidak. Bukankah ketika seseorang jatuh cinta, ia akan selalu merasa bahagia , selalu merasa berbunga-bunga, selalu merasa nyaman, selalu merasa senang setiap kali bersama orang yang menjadi objek dari kata jatuh cinta sebagai predikatnya.
Bukankah ketika seseorang jatuh cinta, ia tidak akan menjadi kecewa, merasa sakit hati, merasa sangat kesal ataupun begitu marah dengan setiap hal yang dilakukan olehnya. Yahhh,, mungkin perasaan itu ada, namun ia bisa memberi kompensasi terhadapnya. Ia akan memberi toleransi dan cepat mengubah pikirannya. Pikiran yang menjadikan bias  bahwa ia tidak pernah salah.
Bukankah ketika seseorang jatuh cinta, ia tidak akan merasa malas atau bahkan merasa bosan dengannya. Dan pastinya tidak akan muncul pemikiran untuk tidak ingin bertemu lagi dengannya. Yang ada setiap hari hanya muncul keinginan untuk terus bertemu dan kalau bisa bersama dengannya. Bagaimanapun caranya.
Tapi bukan seperti itu yang aku rasakan. Tidak seperti itu......... dan aku benar-benar gila karenanya.
Memang,...... terkadang aku juga merasakan hal-hal indah seperti pada bait pertama dari ungkapan rasanya jatuh cinta. Namun tidak setiap hari, tidak setiap saat, tidak setiap kali saat bersamanya. Dan pastinya aku tidak akan melakukan hal-hal konyol seperti pada bait-bait selanjutnya. Aku tidak akan memberikan kompensasi dan toleransi jenis apapun. Aku juga tidak akan mengubah pola pikirku, sampai berpikir kalau dia tidak pernah salah?? Aku tidak punya sama sekali kata-kata itu dalam otak kiriku untuknya. Merasa malas, bosan dan jenuh itu sering sekali terjadi padaku. Bahkan aku sempat berpikir untuk tidak ingin lagi bertemu atau sekedar melihat wajahnya.. ini juga yang membuatku gila.
Dan ada satu hal lagi yang juga menjadi pendukung, ikut menyumbang dalam hal kegilaanku karenanya. Beberapa saat yang lalu, ada satu hal yang tiba-tiba muncul dalam pikiranku. Satu hal itu yang membuatku gelisah sepanjang malam. Satu hal itu yang membuat otakku bekerja sepanjang malam hingga menjadi hal yang sangat sulit untuk mengistirahatkannya. Dan setelah aku berhasil untuk tertidur, dia datang mengacaukan semua mimpiku hingga paginya aku harus bangun dengan perasaan tidak nyaman. Tidak berhenti sampai pagi, dia tetap saja bertahan menjangkiti seluruh jaringan otakku sepanjang hari. Sampai sampai apapun yang mencoba masuk selalu ditolak.
Kau tau apa pikiran itu???
“ Aku ingin hidup bersamanya dan menghabiskan sisa waktuku bersamanya, dan aku tidak peduli dengan apapun. Aku berpikir dia akan merubah hidupku dan membuatnya menjadi lebih baik.”
Mungkin bagi kalian itu hal yang biasa, karena pasti kalian pernah juga mempunyai pikiran seperti itu. Bagiku itu pun juga bisa menjadi hal yang biasa, jika aku punya alasan untuknya. Setidaknya ada sebab sebagai akibat munculnya pikiran semacam itu. Tapi aku tidak punya semua itu. Aku tidak tahu alasannya. Aku tidak tahu apa penyebabnya. Pikiran itu muncul begitu saja. Dia muncul dengan sendirinya tanpa tahu dari mana asal usulnya. Dia tiba-tiba saja datang tanpa tahu siapa yang mengundangnya. Satu-satunya hal yang jelas hanyalah, pikiran itu muncul tepat setelah aku diantar pulang olehnya setelah hampir 24 jam dalam hariku habis bersamanya. Itu satu-satunya hal yang aku bisa ingat. Benar-benar, sungguh-sungguh dan sangat-sangat membuatku gila.
Sekarang aku tidak tahu harus bagaimana..... dan karena ketidak tahuanku untuk melakukan apa, aku tidak akan melakukan apa-apa. Aku hanya akan menjalaninya saja, membiarkan waktu berjalan apa adanya. Karena hanya dia yang aku rasa mampu menjawab semua pertanyaanku. Aku tidak akan berusaha menebak ataupun memikirkan bagaimana ending dari kisahku ini... Karena aku tidak mampu untuk melakukannya..... Aku juga tidak akan menghakiminya atau berusaha menjalankannnya sesuai kemauanku..... Karena aku tahu ada yang sudah menjalankannya yaitu Dia. Jika di akhir nanti, aku memang harus bersamanya.... Aku akan melakukannya. Begitupun jika di akhir nanti dia harus bersama dengan orang lain dan bukan aku, aku pun akan terima. Yang jelas saat ini, karena ada satu alasan yang menuntutku untuk tetap bertemu dan bersama dengannya, aku akan menjalaninya dan menjalin hubungan tetap baik dengannya. Perasaan yang cukup membuatku tidak nyaman ini, tidak cukup untuk membuatku harus menghindarinya.... sekalipun mungkin akan lebih baik untuk melakukan itu.


Sabtu, 25 Mei 2013

happiness


(ini nyata) Beberapa hari yang lalu, karena ada libur kuliah beberapa hari aku memutuskan untuk pulang ke Ngawi. Dari Jogja (impianku terwujud buat kuliah di Jogja, hehe..) aku naik bis. Nah, saat di dalam bis ada sesuatu yang menarik bagiku. Saat itu aku duduk di samping dua orang dewasa, yaitu seorang nenek yang cucunya telah kuliah dan seorang bapak yang anaknya akan memasuki jenjang kuliah tahun ini. Karena duduk bersampingan dengan mereka, mau tidak mau aku harus mendengar pembicaraan mereka walaupun sebenarnya tidak ingin. Awalnya sih aku nggak tertarik sama sekali karena mereka hanya membicarakan tentang masuk ke perguruan tinggi negeri (mungkin bukan nggak  tertarik, lebih tepatnya minder kali yah karena aku nggak bisa kuliah di perguruan tinggi negeri yang membuat anak-anak gila karenanya,...). Namun aku mulai tertarik ketika mereka membicarakan tentang kebahagiaan.  Salah satu kalimat yang membuat terbengong-bengong adalah ketika nenek itu berkata “ saking sibuknya orang mencari kebahagiaan, sampe-sampe tidak sadar bahwa kebahagiaan itu terletak pada diri mereka sendiri”. Ini membuatku diam sejenak dan merenung “ benar juga yah”. Dan ini membuatku terinspirasi untuk mengorek-orek (sambel kali yah..) dan menggali-gali (prett, dikira lubang apa...) dari sebuah kata yang sangat tidak asing di telinga kita yaitu “ kebahagiaan”. Apa sih kebahagiaan itu sampai-sampai semua orang buta akan hal itu? Dan dimana sebenarnya letaknya? Bagaimana kita bisa mendapatkannya?
“Kebahagiaan” sepertinya itulah yang ada dalam benak semua orang dan menjadi tujuan hidup mereka. Pertanyaan- peratanyaan seperti “ dimanakah kebahagiaan itu?” juga “ bagaimana caranya agar aku bisa memperoleh kebahagiaan?” sepertinya telah memenuhi pikiran semua orang.  Karena saking sibuknya mencari hal itu, hingga manusia lupa arti sebenarnya dari kata “kebahagiaan”. 
Ada yang bilang kebahagiaan itu adalah ketika ketemu dengan orang yang  kita sukai. Ini buat orang yang lagi jatuh cinta. Karena alasan itu, ada beberapa dari mereka rela mengikuti kemana pun orang yang di sukai pergi dan mengorbankan mimpi-mimpinya... waw.
Ada juga yang bilang kebahagiaan itu ketika si dia menyatakan cinta dengan penuh keromantisan. Kalau dia nggak cinta, masa juga harus nyatain cinta. Dicintai dengan penuh keterpaksaan, yakin itu membuat kita bahagia?
Ada juga yang bilang kalau bahagia itu ketika kita mendapatkan hadiah dari orang yang spesial. Nah kalau orang itu nggak ngasih, apa mau dipaksa? Iya, bahagia buat kita tapi menyiksa buat dia.
Ada yang bilang juga kalau kebahagiaan itu ketika kita bisa mendapatkan apapun yang kita inginkan. Sampai banyak orang menghalalkan segala cara untuk bisa mendapatkannya. Tanpa mereka sadari, bahwa mereka telah merugikan orang lain. Bagaimana itu bisa disebut kebahagiaan jika ada orang lain yang di lukai.
Oh ya, kemarin ada yang update status di facebook, katanya bahagia itu sederhana. Ketika kita melihat mantan kita di PHP in sama gebetannya. Wahhhh..... kasian banget donk...
Kalau dalam kamus besar bahasa indonesia 3 bahagia itu adalah keadaan atau perasaan senang dan tenteram (bebas dari segala yang menyusahkan).
Sebenarnya kebahagiaan itu adalah sebuah  rasa, dan rasa itu ada dalam diri kita. Rasa itu kita sendiri yang menciptakannya, kita sendiri yang mengelolanya. Kita ingin sedih, maka kita juga akan merasa sedih. Kita ingin kecewa, maka kita juga akan merasa kecewa. Begitu pula dengan bahagia, kita bisa membuat diri kita bahagia. Banyak orang berpikir, kebahagiaan itu hanya bisa diperoleh, ketika apa yang kita inginkan tercapai. Padahal yang membuat kita bahagia bukan hal-hal itu. Bukan uang, bukan tahta, bukan jabatan, bukan kemewahan. Yang membuat kita bahagia adalah rasa puas, dan rasa puas itu diciptakan oleh diri kita sendiri.
Lalu apakah kita hanya bisa mendapatkan rasa puas ketika semua hal yang kita tuntut bisa tercapai?
Tidak adakah jalan lain?
Tanpa itu, sebenarnya kita bisa. Dengan menyukuri apa yang telah ada, menerima apa adanya diri kita, tanpa merasa iri dengan orang lain. Itulah kuncinya. Dengan itu kita bisa merasa puas, dan kebahagiaan akan selalu bersemayam dalam hati dan pikiran kita. Namun meskipun begitu, bukan berarti kita tidak melakukan apa-apa. Karena menerima diri apa adanya diri kita, menjadi diri kita sendiri adalah dengan memaksimalkan apa yang ada pada diri kita. Meyukuri apa yang telah ada, juga bukan berarti kita tidak perlu berusaha lagi. Karena rasa syukur bukan untuk menjadikan seseorang berhenti berusaha, namun menjadikan semangat untuk lebih berusaha lagi.
Jadi, siapkah kamu merasakan kebahgiaan setiap harinya?
Karena kamulah driver dari kebahagiaanmu sendiri...

Jumat, 24 Mei 2013

MENYERAHKAN HATI DAN JIWA


Kahlil gibran. Yah, tentu kalian mengenal nama itu dong.. setidaknya pernah mendengarnya. Dia dikenal sebagai sang maestro cinta dari padang pasir. Tulisan-tulisannya  dikenal luas karena cita rasa orientalnya yang eksotik, bahkan mistis. Dia juga dianggap sebagai penyair  Arab peradaban terbesar. Ada begitu banyak karya-karyanya yang telah diterjemahkan ke lebih dari 20 bahasa. Memang kata-kata pada setiap syairnya sangat sulit dimengerti apa arti yang sebenarnya. namun justru itulah yang membuat karya-karyanya dikagumi banyak orang di dunia. Dan kali ini, aku akan menuliskan salah satu syair dari bukunya yang berjudul “ Song of The Soul” atau tembang  jiwa. Langsung saja ini dia.....
Menyerahkan Hati dan Jiwa
Wahai, di manakah engkau belahan jiwaku?
Adakah engkau di dalam taman firdaus kecil itu, menyirami kembang-kembang yang melihatmu bagaikan bayi menyusu di dada sang ibu.
Ataukah engkau di dalam bilikmu, dimana saat dulu kau suka merenung, di sebuah ruang suci tempat engkau menyerahkan hati dan jiwaku sebagai korban?
Ataukah di antara lipatan kertas buku-buku, tempat mencari ilmu, sementara engkau bergumul mesra dengan kebijaksanaan surga firdaus?
Wahai sahabat jiwaku, dimanakah engkau?
Apakah engkau sedang bersembahyang di ruang suci?ataukah engkau sedang berdzikir kepada semesta di padang pasir yang luas, tempat tinggal halusinasi-halusinasimu?
Apakah engkau di gubuk-gubuk fakir, smabil menghibur gundah-gundah hati dengan kebahagiaan lakumu, dan yang memenuhi tangan-tangan mereka dengan kasih sayangmu?
Kaulah rahmat Tuhan yang ada di mana-mana.
Engkau lebih gagah melampaui usia.
Wahai, apakah engkau tak lupa hari saat kita bersua, saat lingkaran praba mengitari wajahmu, dan malaikat-malaikat pecinta melayang-layang, sambil menyanyikan hymne untuk jiwa yang lelah.
Apakah engkau tak lupa tempat kita bercengkerama di bawah bayang-bayang kekayuan, yang menaungi kemanusiaan diri kita, bagaikan tulang-tulang rusuk yang melindungi sifat ke-Tuhan-an dalam tabir rahasia hati dari marabahaya fitnah dan kekejaman?
Apakah engkau tak lupa akan bukit halangan dan rimba-rimba nasib yang kita lalui bersama dengan bergandeng tangan dan kepala kita yang saling lekat satu sama lain, ibarta kita sedang merahasiakan diri kita di dalam diri?
Apakah engkau tak lupa saat saat aku mengucapkan selamat tinggal, dan ciuman mesra yang engkau kecupkan di bibirku?
Ciuman itu mendidikku, bahwa kasih mesra sepasang jiwa menyingkap tabir rahasia surga firdaus yang tak bisa dilukiskan oleh kata-kata! Ciuman itu ialah sebuah penglaman menuju desah panjang. Bagaikan sunnah Tuhan yang menggurat tanah menjadi manusia. Kesah itu menyingkap jalanku menuju semesta gaib. Yang mengungkapkan anugrah jiwa, kesah itu kekla di sana hingga kita berjumpa kembali.
Aku ingat saat engkau mencium dan mengecupku, dengan linangan air mata yang mengalir di pipmu. Dan engkau berujar, “ jasad kerap kali harus berpisah karena tujuan duniawi dan harus hidup berpisah karena didesak oleh niat duniawi.”
“ Tapi ruh akan tetap menuruti tangan-tangan cinta, samapi tiba sang ajal dan menyatukan jiwa-jiwa dengan Tuhan.”
“Minggatlah, belahan jiwaku, cinta telah melihatmu sebagai utusannya. Taatilah cinta, karena ia adalah kebahagiaan yang menyodorkan gelas manisnya kehidupan kepada pengikutnya. Saat tangan-tanganku menjadi kosong, cintamu harus tetap membahagiakan pengantinku, engkau ingat, perkawinan abadiku.”
Wahai, dimanakh engkau kini, jiwa kembarku?
Apakah engkau terbangun di malam sunyi sepi?
Biarlah angin sepoi-sepoi segar berhembus menuju kepadamu mengirim gejolak dan cinta hatiku. Apakah engkau menghindari mwajahku dalam kenanganmu?
Bayanganku tak akan bertahan lama, karena sang sukma telah menurunkan bayang-bayangnya kepada aura kebahagiaanku di saat lalu. Isak tangis telah mengernyitkan dahiku yang memantulkan kebahagiaanmu dan mengeringkan bibirku yang kau basahi dengan cintamu.
Wahai, dimanakah engkau, belahan jiwaku?
Apakah engkau mendengar isak tangisku dari balik ombak samudera?
Apakah engkau tahu kebutuhanku?
Apakah engkau tahu dalamnhya rasa sabarku?
Apakah masih ada ruh lain di angkasa yang mampu menyampaikan nafas jiwa yang mati ini kepadamu?
Apakah ada jalan tabir rahasia antara malaikat-malaikat yang akan menyampaikan keluh-kwsahku?
Wahai, dimanakah engkau, Dewi venusuku?
Kacaunya kehidupan telah memasukkanku ke dalam dadanya, duka cita telah menguasai diriku. Terbangkalah senyumanmu ke langit. Ia akan hingga dan menghidupkan ruh abadiku! Hembuskanlah harummu ke langit, ia akan membangunkan gairah  lelahku.
Wahai, dimanakah engkau, belahan jiwaku?
Wahai, alangakah tingginya sang cinta! Dan alangkah kecilnya diriku!

itulah salah satu syair karya dari Kahlil Gibran. cukup sulit sih untuk memahaminya, tapi kurang lebih tentang mencari belahan jiwa.