Kahlil
gibran. Yah, tentu kalian mengenal nama itu dong.. setidaknya pernah
mendengarnya. Dia dikenal sebagai sang maestro cinta dari padang pasir.
Tulisan-tulisannya dikenal luas karena
cita rasa orientalnya yang eksotik, bahkan mistis. Dia juga dianggap sebagai
penyair Arab peradaban terbesar. Ada
begitu banyak karya-karyanya yang telah diterjemahkan ke lebih dari 20 bahasa.
Memang kata-kata pada setiap syairnya sangat sulit dimengerti apa arti yang
sebenarnya. namun justru itulah yang membuat karya-karyanya dikagumi banyak
orang di dunia. Dan kali ini, aku akan menuliskan salah satu syair dari bukunya
yang berjudul “ Song of The Soul” atau tembang
jiwa. Langsung saja ini dia.....
Menyerahkan Hati dan Jiwa
Wahai, di manakah engkau belahan jiwaku?
Adakah engkau di dalam taman firdaus
kecil itu, menyirami kembang-kembang yang melihatmu bagaikan bayi menyusu di
dada sang ibu.
Ataukah engkau di dalam bilikmu, dimana
saat dulu kau suka merenung, di sebuah ruang suci tempat engkau menyerahkan
hati dan jiwaku sebagai korban?
Ataukah di antara lipatan kertas
buku-buku, tempat mencari ilmu, sementara engkau bergumul mesra dengan
kebijaksanaan surga firdaus?
Wahai sahabat jiwaku, dimanakah engkau?
Apakah engkau sedang bersembahyang di
ruang suci?ataukah engkau sedang berdzikir kepada semesta di padang pasir yang
luas, tempat tinggal halusinasi-halusinasimu?
Apakah engkau di gubuk-gubuk fakir,
smabil menghibur gundah-gundah hati dengan kebahagiaan lakumu, dan yang
memenuhi tangan-tangan mereka dengan kasih sayangmu?
Kaulah rahmat Tuhan yang ada di
mana-mana.
Engkau lebih gagah melampaui usia.
Wahai, apakah engkau tak lupa hari saat
kita bersua, saat lingkaran praba mengitari wajahmu, dan malaikat-malaikat
pecinta melayang-layang, sambil menyanyikan hymne untuk jiwa yang lelah.
Apakah engkau tak lupa tempat kita
bercengkerama di bawah bayang-bayang kekayuan, yang menaungi kemanusiaan diri
kita, bagaikan tulang-tulang rusuk yang melindungi sifat ke-Tuhan-an dalam
tabir rahasia hati dari marabahaya fitnah dan kekejaman?
Apakah engkau tak lupa akan bukit
halangan dan rimba-rimba nasib yang kita lalui bersama dengan bergandeng tangan
dan kepala kita yang saling lekat satu sama lain, ibarta kita sedang
merahasiakan diri kita di dalam diri?
Apakah engkau tak lupa saat saat aku
mengucapkan selamat tinggal, dan ciuman mesra yang engkau kecupkan di bibirku?
Ciuman itu mendidikku, bahwa kasih mesra
sepasang jiwa menyingkap tabir rahasia surga firdaus yang tak bisa dilukiskan
oleh kata-kata! Ciuman itu ialah sebuah penglaman menuju desah panjang.
Bagaikan sunnah Tuhan yang menggurat tanah menjadi manusia. Kesah itu
menyingkap jalanku menuju semesta gaib. Yang mengungkapkan anugrah jiwa, kesah
itu kekla di sana hingga kita berjumpa kembali.
Aku ingat saat engkau mencium dan mengecupku,
dengan linangan air mata yang mengalir di pipmu. Dan engkau berujar, “ jasad
kerap kali harus berpisah karena tujuan duniawi dan harus hidup berpisah karena
didesak oleh niat duniawi.”
“ Tapi ruh akan tetap menuruti
tangan-tangan cinta, samapi tiba sang ajal dan menyatukan jiwa-jiwa dengan
Tuhan.”
“Minggatlah, belahan jiwaku, cinta telah
melihatmu sebagai utusannya. Taatilah cinta, karena ia adalah kebahagiaan yang
menyodorkan gelas manisnya kehidupan kepada pengikutnya. Saat tangan-tanganku
menjadi kosong, cintamu harus tetap membahagiakan pengantinku, engkau ingat,
perkawinan abadiku.”
Wahai, dimanakh engkau kini, jiwa
kembarku?
Apakah engkau terbangun di malam sunyi
sepi?
Biarlah angin sepoi-sepoi segar
berhembus menuju kepadamu mengirim gejolak dan cinta hatiku. Apakah engkau
menghindari mwajahku dalam kenanganmu?
Bayanganku tak akan bertahan lama,
karena sang sukma telah menurunkan bayang-bayangnya kepada aura kebahagiaanku
di saat lalu. Isak tangis telah mengernyitkan dahiku yang memantulkan kebahagiaanmu
dan mengeringkan bibirku yang kau basahi dengan cintamu.
Wahai, dimanakah engkau, belahan jiwaku?
Apakah engkau mendengar isak tangisku
dari balik ombak samudera?
Apakah engkau tahu kebutuhanku?
Apakah engkau tahu dalamnhya rasa
sabarku?
Apakah masih ada ruh lain di angkasa
yang mampu menyampaikan nafas jiwa yang mati ini kepadamu?
Apakah ada jalan tabir rahasia antara
malaikat-malaikat yang akan menyampaikan keluh-kwsahku?
Wahai, dimanakah engkau, Dewi venusuku?
Kacaunya kehidupan telah memasukkanku ke
dalam dadanya, duka cita telah menguasai diriku. Terbangkalah senyumanmu ke
langit. Ia akan hingga dan menghidupkan ruh abadiku! Hembuskanlah harummu ke
langit, ia akan membangunkan gairah
lelahku.
Wahai, dimanakah engkau, belahan jiwaku?
Wahai, alangakah tingginya sang cinta!
Dan alangkah kecilnya diriku!
itulah salah satu syair karya dari Kahlil Gibran. cukup sulit sih untuk memahaminya, tapi kurang lebih tentang mencari belahan jiwa.

Tidak ada komentar:
Posting Komentar