expr:class='"loading" + data:blog.mobileClass'>
WELLCOME IN MY BLOG..DON'T FORGET TO LEAVE YOUR COMMENT!!

Jumat, 24 Mei 2013

MENYERAHKAN HATI DAN JIWA


Kahlil gibran. Yah, tentu kalian mengenal nama itu dong.. setidaknya pernah mendengarnya. Dia dikenal sebagai sang maestro cinta dari padang pasir. Tulisan-tulisannya  dikenal luas karena cita rasa orientalnya yang eksotik, bahkan mistis. Dia juga dianggap sebagai penyair  Arab peradaban terbesar. Ada begitu banyak karya-karyanya yang telah diterjemahkan ke lebih dari 20 bahasa. Memang kata-kata pada setiap syairnya sangat sulit dimengerti apa arti yang sebenarnya. namun justru itulah yang membuat karya-karyanya dikagumi banyak orang di dunia. Dan kali ini, aku akan menuliskan salah satu syair dari bukunya yang berjudul “ Song of The Soul” atau tembang  jiwa. Langsung saja ini dia.....
Menyerahkan Hati dan Jiwa
Wahai, di manakah engkau belahan jiwaku?
Adakah engkau di dalam taman firdaus kecil itu, menyirami kembang-kembang yang melihatmu bagaikan bayi menyusu di dada sang ibu.
Ataukah engkau di dalam bilikmu, dimana saat dulu kau suka merenung, di sebuah ruang suci tempat engkau menyerahkan hati dan jiwaku sebagai korban?
Ataukah di antara lipatan kertas buku-buku, tempat mencari ilmu, sementara engkau bergumul mesra dengan kebijaksanaan surga firdaus?
Wahai sahabat jiwaku, dimanakah engkau?
Apakah engkau sedang bersembahyang di ruang suci?ataukah engkau sedang berdzikir kepada semesta di padang pasir yang luas, tempat tinggal halusinasi-halusinasimu?
Apakah engkau di gubuk-gubuk fakir, smabil menghibur gundah-gundah hati dengan kebahagiaan lakumu, dan yang memenuhi tangan-tangan mereka dengan kasih sayangmu?
Kaulah rahmat Tuhan yang ada di mana-mana.
Engkau lebih gagah melampaui usia.
Wahai, apakah engkau tak lupa hari saat kita bersua, saat lingkaran praba mengitari wajahmu, dan malaikat-malaikat pecinta melayang-layang, sambil menyanyikan hymne untuk jiwa yang lelah.
Apakah engkau tak lupa tempat kita bercengkerama di bawah bayang-bayang kekayuan, yang menaungi kemanusiaan diri kita, bagaikan tulang-tulang rusuk yang melindungi sifat ke-Tuhan-an dalam tabir rahasia hati dari marabahaya fitnah dan kekejaman?
Apakah engkau tak lupa akan bukit halangan dan rimba-rimba nasib yang kita lalui bersama dengan bergandeng tangan dan kepala kita yang saling lekat satu sama lain, ibarta kita sedang merahasiakan diri kita di dalam diri?
Apakah engkau tak lupa saat saat aku mengucapkan selamat tinggal, dan ciuman mesra yang engkau kecupkan di bibirku?
Ciuman itu mendidikku, bahwa kasih mesra sepasang jiwa menyingkap tabir rahasia surga firdaus yang tak bisa dilukiskan oleh kata-kata! Ciuman itu ialah sebuah penglaman menuju desah panjang. Bagaikan sunnah Tuhan yang menggurat tanah menjadi manusia. Kesah itu menyingkap jalanku menuju semesta gaib. Yang mengungkapkan anugrah jiwa, kesah itu kekla di sana hingga kita berjumpa kembali.
Aku ingat saat engkau mencium dan mengecupku, dengan linangan air mata yang mengalir di pipmu. Dan engkau berujar, “ jasad kerap kali harus berpisah karena tujuan duniawi dan harus hidup berpisah karena didesak oleh niat duniawi.”
“ Tapi ruh akan tetap menuruti tangan-tangan cinta, samapi tiba sang ajal dan menyatukan jiwa-jiwa dengan Tuhan.”
“Minggatlah, belahan jiwaku, cinta telah melihatmu sebagai utusannya. Taatilah cinta, karena ia adalah kebahagiaan yang menyodorkan gelas manisnya kehidupan kepada pengikutnya. Saat tangan-tanganku menjadi kosong, cintamu harus tetap membahagiakan pengantinku, engkau ingat, perkawinan abadiku.”
Wahai, dimanakh engkau kini, jiwa kembarku?
Apakah engkau terbangun di malam sunyi sepi?
Biarlah angin sepoi-sepoi segar berhembus menuju kepadamu mengirim gejolak dan cinta hatiku. Apakah engkau menghindari mwajahku dalam kenanganmu?
Bayanganku tak akan bertahan lama, karena sang sukma telah menurunkan bayang-bayangnya kepada aura kebahagiaanku di saat lalu. Isak tangis telah mengernyitkan dahiku yang memantulkan kebahagiaanmu dan mengeringkan bibirku yang kau basahi dengan cintamu.
Wahai, dimanakah engkau, belahan jiwaku?
Apakah engkau mendengar isak tangisku dari balik ombak samudera?
Apakah engkau tahu kebutuhanku?
Apakah engkau tahu dalamnhya rasa sabarku?
Apakah masih ada ruh lain di angkasa yang mampu menyampaikan nafas jiwa yang mati ini kepadamu?
Apakah ada jalan tabir rahasia antara malaikat-malaikat yang akan menyampaikan keluh-kwsahku?
Wahai, dimanakah engkau, Dewi venusuku?
Kacaunya kehidupan telah memasukkanku ke dalam dadanya, duka cita telah menguasai diriku. Terbangkalah senyumanmu ke langit. Ia akan hingga dan menghidupkan ruh abadiku! Hembuskanlah harummu ke langit, ia akan membangunkan gairah  lelahku.
Wahai, dimanakah engkau, belahan jiwaku?
Wahai, alangakah tingginya sang cinta! Dan alangkah kecilnya diriku!

itulah salah satu syair karya dari Kahlil Gibran. cukup sulit sih untuk memahaminya, tapi kurang lebih tentang mencari belahan jiwa.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar