Hari ini aku menyadari satu hal,
nggak ada sahabat sebaik kamu. Nggak ada orang yang bisa mengerti aku seperti
kamu, nggak ada orang yang bisa memahamiku seperti kamu, nggak ada yang bisa
bener2 tulus sahabatan denganku seperti ketulusanmu, nggak ada yang bisa
gantiin kamu. Meskipun aku harus nyari keujung dunia pun aku nggak bakal bisa
nemuin orang yang bisa gantiin kamu. Nggak akan pernah bisa.
Kamu selalu nyuruh aku buat nggak
menyerah, dan akupun lakuin itu. Tapi sekarang aku udah nggak bisa lagi, aku ngerasa
nggak sanggup. Jangan lagi paksa aku buat nyari orang sebagai penggantimu. Aku
udah ketergantungan sama kamu, dan aku nggak tahu apakah aku bisa lepas dari
kamu.
Aku nyesel banget dulu pernah ngecewain kamu, pernah ngianatin kepercayaanmu, pernah bikin kamu marah sama aku. Dan yang paling aku sesali, kenapa dulu aku punya pikiran buat nyoba hidup tanpa kamu. Harusnya dulu aku sadar kalau nggak akan ada sahabat sebaik dan sesempurna kamu. Jika waktu bisa diulang, aku nggak akan pernah nglakuin itu, aku nggak akan pernah nyoba nglakuin hal bodoh itu lagi.
Kini semua udah terlanjur. Kita
udah nggak akan bisa barengan lagi. Kita udah punya hidup masing2. Disana
mungkin kamu udah dapet penggantiku, udah bisa nikmatin hidup yang indah bareng
sahabat barumu, yang mungkin jauh lebih baik dari aku. Yang nggak seegois aku,
yang nggak se ngambekan aku, yang nggak semanja aku, yang nggak sengrepotin
aku, dan tentunya seseorang yang nggak akn ngianatin kamu seperti aku.
Disini aku benar2 ngerasa
sendiri, nggak punya siapa2. Orang yang selalu bilang katanya aku sahabatnya,
katanya aku udah lebih dari seorang saudara, sekarang ninggalin aku sendiri
setelah punya teman baru. Mungkin dia akan kembali saat dia ngerasa butuh aku. Mungkin
dia akan kembali lagi setelah dia jenuh dengan temannya. Lalu setelah jenuh,
bakal pergi lagi. Apa itu arti dari sahabat? Tapi bukan itu yang aku pelajari
darimu. Lalu apa aku harus menerimanya?
Aku udah nyoba ngasih kepercayaan
ke dia, tapi ternyata benar, didunia ini nggak ada orang yang bisa dipercaya.
Dan satu hal lagi, benar apa yang kamu katakan, selamanya manusia nggak akan
pernah bisa saling mengerti. Semua orang hanya akan mementingkan dirinya
sendiri. Mereka nggak pernah mikirin perasaan orang lain. Apakah orang lain
akan merasa kecewa dengannya atau tidak, nggak peduli.
Rasanya aku pengen lari dari sini.
Aku pengen pulang ketempat dimana aku nggak akan ngerasa sendiri. Tapi aku
nggak bisa, aku punya tanggung jawab disini, ada mimpi yang harus aku capai,
ada orang tua yang udah ngasih harapan besar ke aku dan aku nggak mungkin
ngecawain mereka. Lalu sekarang apa yang harus aku lakuin?
Sekarang aku hanya bisa diam,
sambil memendam rasa menyesal dengan sahabat lamaku (yang benar2 seorang
sahabat) dan rasa kecewa dengan sahabat baruku (yang aku nggak tahu apakah
layak disebut sebagai seorang sahabat). Juga sebuah kebingungan, sebuah
kebuntuan dari pikiran yang selama ini aku andelin. Juga rasa lapar karena dari
tadi aku nggak makan (just kidding).
Aku tahu, percuma aku nulis ini.
Nggak akan merubah apapun. Nggak akan bikin kamu balik lagi. Tulisanku nggak
akan nyiptain kehidupan yang kayak dulu lagi, juga nggak akan bikin aku dapetin
sahabat. Dan mungkin tulisanku justru bikin kamu jadi sebel, karena satu kali
lagi kamu harus dengerin keluhanku. Tapi aku nggak bisa nglakuin apa2 selain
nulis, tepatnya aku nggak tahu apa yang harus aku lakuin. Setidaknya dengan ini
aku bisa sedikit merasa lega. Maaf, kalau ini malah justru bikin kamu nggak
nyaman. Aku nggak punya tempat lain, mungkin nggak ada yang mau dengerin
keluhanku.
Ternyata buruk banget yah aku,
..........
Tidak ada komentar:
Posting Komentar