Terkadang kita memang merasa
jenuh. Dengan keadaan kita, dengan orang-orang disekitar kita, dengan apa yang
kita miliki, dengan apa yang harus kita hadapi, dengan tuntutan-tuntutan
kehidupan yang tidak ada habisnya, dengan semua hal. Tapi bukan berarti itu
menjadi alasan untuk kita lari dari mereka, lalu meninggalkannya begitu saja.
Karena tidak dapat dipungkiri semua itulah yang membentuk kita. Yang menjadikan
kita bisa seperti ini. Keadaan yang memuakkanlah yang membentuk kita sampai
bisa seperti ini, orang-orang yang membosankanlah yang selalu menemani kita
saat kita senang, susah, menangis atau tertawa. Mereka yang telah mengangkat
kita ketika terjatuh, mereka yang telah menyuplai energi kepada kita ketika
kita lemah, mereka yang selalu berteriak ketika kita diam dan tidak ingin
bicara, mereka yang selalu memberikan semangat ketika kita mulai menyerah.
Mungkin mereka akan tertawa ketika kita menangis, dan itu membuat kita jengkel,
tapi mereka bukan mengejek kita, mereka ingin kita bisa ikut tertawa bersama
mereka dan melenyapkan kesedihan dan duka dihati. Mungkin mereka akan
menyepelekan karya kita, itupun juga membuat kita muak, tapi bukan itu maksud
mereka, mereka ingin kita berkarya jauh lebih baik lagi. Mungkin mereka justru
terus saja mengajak mengobrol ketika kita ingin diam, ini juga akn membuat kita
marah, tapi satu yang ada dibenak mereka, mereka ingin kita tetap ceria
menghadapi apapun rintangan dan seolah ingin mengatakan “aku selalu ada
untukmu”. Tapi mereka justru akan diam ketika kamu mengeluh, membuat kita
merasa tidak dihargai, tapi lagi-lagi bukan itu yang ada dibenak mereka, mereka
ingin kita berhenti mengeluh karena itu membuat orang lain tidak nyaman bersama
kita, bukankah itu juga untuk kebaikan kita? Tanpa kita sadari, semua hal yang
mereka lakukan adalah untuk kebaikan kita, namun kita selalu memandang itu
sebagai sebuah keburukan yang membuat kita marah dengan mereka dan akhirnya
memutuskan meninggalkan mereka. Saat itulah kita sedang melepaskan kebahagiaan
yang mungkin tidak bisa dapatkan ditempat lain. Kita berpikir ini akan
menyelesaikan masalah, kita berpikir setelah ini kita akan bebas dari
orang-orang seperti mereka, kita berpikir kiata akan mendapatkan kehidupan yang
jauh lebih menyenangkan. Pikiran-pikiran itu yang selalu mengikat kita,
membutakan kita, membuat kita merasa sangat lega, tanpa kita sadari justru
pikiran itulah yang akan membuat kita jatuh, membuat kita hilang, menyesatkan.
Di tempat lain kita coba mencari orang-orang baru, mencoba bergabung dengan
mereka, tapi bisakah kita mendapatkan orang-orang sebaik mereka? Kita masih
tetap mencari, lalu kita menemukan orang yang kita anggap cocok. Mempercayai
mereka, mengikuti mereka, sampai akhirnya kita menjadi orang yang benar-benar
bodoh. Saat kita jatuh mereka tidak peduli, saat kita sedih mereka akn tertawa
tapi itu tawa ejekan, saat kita lemah mereka akn meninggalkan kita begitu saja.
Saat itulah kita baru sadar ternyata mereka, orang-orang yang sangat
memuakkanlah yang paling baik dan bisa mengerti kita. Kita berpikir untuk
kembali, tapi kita takut. Tapi jika tidak kembali, harus lari kemana lagi. Lalu
kita putuskan untuk kembali, tapi mereka terlanjur terluka. Mereka merasa kita
hianati dan masih menyimpan rasa itu. Mereka tidak bisa mempercayai kita lagi.
Namun betapa besar hati mereka, mereka tetap menerima kita meskipun dengan rasa
kecewa. Mereka coba menghapusnya dan berusaha mempercayai kita lagi. Tapi satu
hal yang jelas, cermin yang sudah pecah meskipun coba disatukan kembali, tidak
akan bisa kembali utuh dan sesempurna dulu lagi. Masih ada goresan yang selamanya
tidak bisa hilang. Begitu pula dengan sebuah kepercayaan, saat kita telah
menghianatinya, meskipun mereka berusaha menyatukan kembali kepercayaan mereka,
tetap akan ada goresan yang tidak akan hilang selamanya. Waktu pun tidak akan
sanggup menghapusnya. Dan jika satu kali lagi kita menjatuhkannya, ia tidak
akan bisa disatukan kembali. Lebih gelisah mana, membawa cermin yang utuh sempurna
atau cermin yang sudah penuh dengan perekat dan goresan? Bagaimana jika perekat
itu sudah tidak berfungsi lagi? Bagaimana jika nanti mereka akan runtuh satu
per satu? Apa yang bisa kita lakukan selain menyesal? Karena itu, jangan pernah
sia-siakan apa yang ada di sekitar kita. Meskipun kita jenuh, cobalah untuk
tetap bertahan. Kita pasti bisa mengalahkan rasa jenuh itu, itu tidak akan
bertahan lama. Jangan pernah kita melakukan hal bodoh hanya karena rasa jenuh
yang hanya sementara. Penyesalan selalu datang di akhir, bahkan setelah kita
merasa senang.Selasa, 19 Maret 2013
kejenuhan
Terkadang kita memang merasa
jenuh. Dengan keadaan kita, dengan orang-orang disekitar kita, dengan apa yang
kita miliki, dengan apa yang harus kita hadapi, dengan tuntutan-tuntutan
kehidupan yang tidak ada habisnya, dengan semua hal. Tapi bukan berarti itu
menjadi alasan untuk kita lari dari mereka, lalu meninggalkannya begitu saja.
Karena tidak dapat dipungkiri semua itulah yang membentuk kita. Yang menjadikan
kita bisa seperti ini. Keadaan yang memuakkanlah yang membentuk kita sampai
bisa seperti ini, orang-orang yang membosankanlah yang selalu menemani kita
saat kita senang, susah, menangis atau tertawa. Mereka yang telah mengangkat
kita ketika terjatuh, mereka yang telah menyuplai energi kepada kita ketika
kita lemah, mereka yang selalu berteriak ketika kita diam dan tidak ingin
bicara, mereka yang selalu memberikan semangat ketika kita mulai menyerah.
Mungkin mereka akan tertawa ketika kita menangis, dan itu membuat kita jengkel,
tapi mereka bukan mengejek kita, mereka ingin kita bisa ikut tertawa bersama
mereka dan melenyapkan kesedihan dan duka dihati. Mungkin mereka akan
menyepelekan karya kita, itupun juga membuat kita muak, tapi bukan itu maksud
mereka, mereka ingin kita berkarya jauh lebih baik lagi. Mungkin mereka justru
terus saja mengajak mengobrol ketika kita ingin diam, ini juga akn membuat kita
marah, tapi satu yang ada dibenak mereka, mereka ingin kita tetap ceria
menghadapi apapun rintangan dan seolah ingin mengatakan “aku selalu ada
untukmu”. Tapi mereka justru akan diam ketika kamu mengeluh, membuat kita
merasa tidak dihargai, tapi lagi-lagi bukan itu yang ada dibenak mereka, mereka
ingin kita berhenti mengeluh karena itu membuat orang lain tidak nyaman bersama
kita, bukankah itu juga untuk kebaikan kita? Tanpa kita sadari, semua hal yang
mereka lakukan adalah untuk kebaikan kita, namun kita selalu memandang itu
sebagai sebuah keburukan yang membuat kita marah dengan mereka dan akhirnya
memutuskan meninggalkan mereka. Saat itulah kita sedang melepaskan kebahagiaan
yang mungkin tidak bisa dapatkan ditempat lain. Kita berpikir ini akan
menyelesaikan masalah, kita berpikir setelah ini kita akan bebas dari
orang-orang seperti mereka, kita berpikir kiata akan mendapatkan kehidupan yang
jauh lebih menyenangkan. Pikiran-pikiran itu yang selalu mengikat kita,
membutakan kita, membuat kita merasa sangat lega, tanpa kita sadari justru
pikiran itulah yang akan membuat kita jatuh, membuat kita hilang, menyesatkan.
Di tempat lain kita coba mencari orang-orang baru, mencoba bergabung dengan
mereka, tapi bisakah kita mendapatkan orang-orang sebaik mereka? Kita masih
tetap mencari, lalu kita menemukan orang yang kita anggap cocok. Mempercayai
mereka, mengikuti mereka, sampai akhirnya kita menjadi orang yang benar-benar
bodoh. Saat kita jatuh mereka tidak peduli, saat kita sedih mereka akn tertawa
tapi itu tawa ejekan, saat kita lemah mereka akn meninggalkan kita begitu saja.
Saat itulah kita baru sadar ternyata mereka, orang-orang yang sangat
memuakkanlah yang paling baik dan bisa mengerti kita. Kita berpikir untuk
kembali, tapi kita takut. Tapi jika tidak kembali, harus lari kemana lagi. Lalu
kita putuskan untuk kembali, tapi mereka terlanjur terluka. Mereka merasa kita
hianati dan masih menyimpan rasa itu. Mereka tidak bisa mempercayai kita lagi.
Namun betapa besar hati mereka, mereka tetap menerima kita meskipun dengan rasa
kecewa. Mereka coba menghapusnya dan berusaha mempercayai kita lagi. Tapi satu
hal yang jelas, cermin yang sudah pecah meskipun coba disatukan kembali, tidak
akan bisa kembali utuh dan sesempurna dulu lagi. Masih ada goresan yang selamanya
tidak bisa hilang. Begitu pula dengan sebuah kepercayaan, saat kita telah
menghianatinya, meskipun mereka berusaha menyatukan kembali kepercayaan mereka,
tetap akan ada goresan yang tidak akan hilang selamanya. Waktu pun tidak akan
sanggup menghapusnya. Dan jika satu kali lagi kita menjatuhkannya, ia tidak
akan bisa disatukan kembali. Lebih gelisah mana, membawa cermin yang utuh sempurna
atau cermin yang sudah penuh dengan perekat dan goresan? Bagaimana jika perekat
itu sudah tidak berfungsi lagi? Bagaimana jika nanti mereka akan runtuh satu
per satu? Apa yang bisa kita lakukan selain menyesal? Karena itu, jangan pernah
sia-siakan apa yang ada di sekitar kita. Meskipun kita jenuh, cobalah untuk
tetap bertahan. Kita pasti bisa mengalahkan rasa jenuh itu, itu tidak akan
bertahan lama. Jangan pernah kita melakukan hal bodoh hanya karena rasa jenuh
yang hanya sementara. Penyesalan selalu datang di akhir, bahkan setelah kita
merasa senang.
Langganan:
Posting Komentar (Atom)
Tidak ada komentar:
Posting Komentar