expr:class='"loading" + data:blog.mobileClass'>
WELLCOME IN MY BLOG..DON'T FORGET TO LEAVE YOUR COMMENT!!

Selasa, 19 Maret 2013

kejenuhan


Terkadang kita memang merasa jenuh. Dengan keadaan kita, dengan orang-orang disekitar kita, dengan apa yang kita miliki, dengan apa yang harus kita hadapi, dengan tuntutan-tuntutan kehidupan yang tidak ada habisnya, dengan semua hal. Tapi bukan berarti itu menjadi alasan untuk kita lari dari mereka, lalu meninggalkannya begitu saja. Karena tidak dapat dipungkiri semua itulah yang membentuk kita. Yang menjadikan kita bisa seperti ini. Keadaan yang memuakkanlah yang membentuk kita sampai bisa seperti ini, orang-orang yang membosankanlah yang selalu menemani kita saat kita senang, susah, menangis atau tertawa. Mereka yang telah mengangkat kita ketika terjatuh, mereka yang telah menyuplai energi kepada kita ketika kita lemah, mereka yang selalu berteriak ketika kita diam dan tidak ingin bicara, mereka yang selalu memberikan semangat ketika kita mulai menyerah. Mungkin mereka akan tertawa ketika kita menangis, dan itu membuat kita jengkel, tapi mereka bukan mengejek kita, mereka ingin kita bisa ikut tertawa bersama mereka dan melenyapkan kesedihan dan duka dihati. Mungkin mereka akan menyepelekan karya kita, itupun juga membuat kita muak, tapi bukan itu maksud mereka, mereka ingin kita berkarya jauh lebih baik lagi. Mungkin mereka justru terus saja mengajak mengobrol ketika kita ingin diam, ini juga akn membuat kita marah, tapi satu yang ada dibenak mereka, mereka ingin kita tetap ceria menghadapi apapun rintangan dan seolah ingin mengatakan “aku selalu ada untukmu”. Tapi mereka justru akan diam ketika kamu mengeluh, membuat kita merasa tidak dihargai, tapi lagi-lagi bukan itu yang ada dibenak mereka, mereka ingin kita berhenti mengeluh karena itu membuat orang lain tidak nyaman bersama kita, bukankah itu juga untuk kebaikan kita? Tanpa kita sadari, semua hal yang mereka lakukan adalah untuk kebaikan kita, namun kita selalu memandang itu sebagai sebuah keburukan yang membuat kita marah dengan mereka dan akhirnya memutuskan meninggalkan mereka. Saat itulah kita sedang melepaskan kebahagiaan yang mungkin tidak bisa dapatkan ditempat lain. Kita berpikir ini akan menyelesaikan masalah, kita berpikir setelah ini kita akan bebas dari orang-orang seperti mereka, kita berpikir kiata akan mendapatkan kehidupan yang jauh lebih menyenangkan. Pikiran-pikiran itu yang selalu mengikat kita, membutakan kita, membuat kita merasa sangat lega, tanpa kita sadari justru pikiran itulah yang akan membuat kita jatuh, membuat kita hilang, menyesatkan. Di tempat lain kita coba mencari orang-orang baru, mencoba bergabung dengan mereka, tapi bisakah kita mendapatkan orang-orang sebaik mereka? Kita masih tetap mencari, lalu kita menemukan orang yang kita anggap cocok. Mempercayai mereka, mengikuti mereka, sampai akhirnya kita menjadi orang yang benar-benar bodoh. Saat kita jatuh mereka tidak peduli, saat kita sedih mereka akn tertawa tapi itu tawa ejekan, saat kita lemah mereka akn meninggalkan kita begitu saja. Saat itulah kita baru sadar ternyata mereka, orang-orang yang sangat memuakkanlah yang paling baik dan bisa mengerti kita. Kita berpikir untuk kembali, tapi kita takut. Tapi jika tidak kembali, harus lari kemana lagi. Lalu kita putuskan untuk kembali, tapi mereka terlanjur terluka. Mereka merasa kita hianati dan masih menyimpan rasa itu. Mereka tidak bisa mempercayai kita lagi. Namun betapa besar hati mereka, mereka tetap menerima kita meskipun dengan rasa kecewa. Mereka coba menghapusnya dan berusaha mempercayai kita lagi. Tapi satu hal yang jelas, cermin yang sudah pecah meskipun coba disatukan kembali, tidak akan bisa kembali utuh dan sesempurna dulu lagi. Masih ada goresan yang selamanya tidak bisa hilang. Begitu pula dengan sebuah kepercayaan, saat kita telah menghianatinya, meskipun mereka berusaha menyatukan kembali kepercayaan mereka, tetap akan ada goresan yang tidak akan hilang selamanya. Waktu pun tidak akan sanggup menghapusnya. Dan jika satu kali lagi kita menjatuhkannya, ia tidak akan bisa disatukan kembali. Lebih gelisah mana, membawa cermin yang utuh sempurna atau cermin yang sudah penuh dengan perekat dan goresan? Bagaimana jika perekat itu sudah tidak berfungsi lagi? Bagaimana jika nanti mereka akan runtuh satu per satu? Apa yang bisa kita lakukan selain menyesal? Karena itu, jangan pernah sia-siakan apa yang ada di sekitar kita. Meskipun kita jenuh, cobalah untuk tetap bertahan. Kita pasti bisa mengalahkan rasa jenuh itu, itu tidak akan bertahan lama. Jangan pernah kita melakukan hal bodoh hanya karena rasa jenuh yang hanya sementara. Penyesalan selalu datang di akhir, bahkan setelah kita merasa senang.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar