expr:class='"loading" + data:blog.mobileClass'>
WELLCOME IN MY BLOG..DON'T FORGET TO LEAVE YOUR COMMENT!!

Selasa, 07 Januari 2014

Lebih Gila Dari Yang Lalu

Inikah jawaban dari begitu banyak pertanyaanku?
Inikah akhir dari kegilaanku?
Inikah yang ternyata akan terjadi setelah semua yang ku lalui?
Dan inikah ending yang diberikan sang waktu dari kisahku?
Aku tidak tahu,, tapi aku rasa memang begitu.
Meskipun ini tidak pernah ada di pikiranku sebelumnya.
Meskipun ini tidak pernah terlintas sedetikpun dalam benakku sebelumnya.
Dan ini akan menjadi hal yang sangat sulit untuk bisa diterima.
Namun aku harus mempercayainya, bahwa memang kenyataannya seperti itu.
Waktu telah menjawab semua pertanyaanku. Tapi ia tidak bisa mengakhiri kegilaanku, karena aku justru menjadi lebih gila dari sebelum itu.
Waktu telah menunjukkan apa yang terjadi setelah semua yang ku lalui. Tapi aku rasa ini sangat sulit, lebih sulit dari yang lalu.
Waktu telah memberikan ending dari kisahku. Tapi aku tidak bisa terima, karena bukan ini yang aku mau.
Jika dulu aku akan membiarkan semua berjalan apa adanya.
Jika dulu aku membiarkan sang waktu menjawabnya.
Jika dulu aku aku tidak akan menebak atau memikirkan endingnya.
Jika dulu aku tidak akan berusaha untuk menghakiminya atau menjalakannya sesuai kemauanku.
Jika dulu aku akan terima jika dia memang tidak harus bersamaku.

Aku ingin menarik semua hal itu dari pikiranku, andai itu diperbolehkan.
Karena aku ingin semua seperti yang aku mau.
Aku menjadi lebih lebih gila dari sebelumnya.
Kalian tau kenapa seperti itu?? Kenapa aku punya pikiran seperti itu??  Kenapa aku harus menjilat ludahku sendiri?? Kenapa aku ingin mengingkari apa yang sudah keluar dari mulutku ??
Karena inilah yang terjadi??
Akhirnya waktu membuatku tidak bisa bersamanya lagi seperti dulu. Tidak bisa dari semua waktuku habis bersamanya lagi. Tidak ada banyak hal yang bisa kulakukan bersamanya lagi. Dan tidak ada kata bertukar banyak pemikiran bersamanya lagi.
Jika dulu aku tidak perlu menunggu kedatangannya,karena setiap hari ia akan datang. Sekarang aku harus menunggu selama berhari-hari, itu pun dengan ketidak pastian.
Jika dulu aku tidak perlu menebak kapan ia akan datang, karena ia pasti akan datang. Sekarang aku harus menebak-nebak seperti menjawab teka-teki.
Jika dulu aku tidak perlu memikirkan apakah ia akan datang, karena ia juga pasti akan datang. Sekarang aku harus membuat otakku bekerja keras hanya untuk memikirkan semua itu.
Jika dulu aku tidak perlu gelisah hanya untuk bertemu dengannya, karena aku pasti akan bertemu. Sekarang hariku harus habis dengan perasaan itu.
Entah kenapa, tiba-tiba menjadi seperti itu. Aku pun tidak tahu kenapa justru itu yang terjadi.
Ia menjadi sangat sibuk di hari-harinya, sehingga bertemu denganku sudah tidak masuk dalam daftar jadwalnya. Jangankan bertemu, menghubungiku lewat telephon saja bisa di hitung jari.
Tidak hanya itu, ia menjadi tidak hangat lagi seperti dulu. Waktu bersamanya tidak sebahagia dulu. Bertatap mata dengannya tidak seindah dulu. Berjabat tangan dengannya tidak semanis dulu. Tertawa dengannya malah menggoreskan luka dihatiku. Berbicara dengannya menjadi hal canggung, aneh. Ia menjadi seseorang yangasing untukku.
Aku menjadi sangat jengkel setiap dengannya. Aku menjadi sangat marah dengannya. Bahkan karena saking marahnya aku, aku mengucapkan kata-kata yang sangat kasar dengannya. Dan mungkin itu membuatnya marah, tapi aku juga tidak tahu. Aku sudah berusaha minta maaf, tapi aku tidak tahu apa dia akan memaafkan. Pokoknya semua menjadi kacau, sangat kacau.. sesuatu yang tidak bisa aku mengerti, sangat tidak bisa. Sesuatu yang tidak bisa aku terima, sangat tidak terima.
Waktu,, bisakah kau kembalikan seperti yang dulu lagi?? Aku tidak mau seperti ini.
Bisakah kau biarkan waktuku habis bersamanya lagi?? Aku pun sangat rela.
Bisakah kau biarka aku melakukan banyak hal bersamanya lagi?? Aku merasa sendiri.
Bisakah kau biarkan aku bertukar pikiran tentang banyak hal bersamanya lagi ?? aku merasa sepi.
Aku benar-benar, sungguh-sungguh dan sangat-sangat menjadi lebih gila dari yang lalu....


Benar - Benar Gila



Akhir-akhir ini aku mulai menjadi gila karena seseorang. Dan lebih gilanya lagi, dia tidak pernah merasa kalau sudah membuat seseorang menjadi gila karenanya. Awal bertemu dengannya, semua mengalir begitu saja. Tidak ada yang hal yang aneh. Akupun menikmati semuanya. Melalui setiap waktuku bersamanya. Menjalani begitu banyak aktivitas bersamanya. Membicarakan berbagai banyak hal bersamanya.  Bertukar begitu banyak pemikiran bersamanya. Semua itu aku lakukan tanpa ada satupun hal yang ganjil didalamnya. Namun bersama berlalunya waktu, bersama itulah muncul sesuatu yang juga tidak aku mengerti. Sesuatu yang tidak bisa dicerna oleh otak dan logikaku. Sesuatu yang tidak bisa dipahami oleh hati. Sesuatu yang bahkan dari seluruh kata yang ada di kamus besar pun tidak bisa menggambarkannya.
Mungkin kalian berpikir “kamu pasti sudah jatuh cinta dengannya ?”
Dan aku akan menjawab “tidak, itu salah.” Tentu kalian semua sudah pernah mengalami jatuh cinta. Atau bahkan mungkin sedang mengalami hal tersebut saat ini. Dan kalian tahu bagaimana rasanya satu ungkapan tersebut. Begitupun denganku. Aku sudah berkali-kali mengalami, merasakan, dan menikmati satu ungkapan fenomenal itu. Dan berdasarkan pengalamanku, tidak seperti ini rasanya. Tidak seperti yang aku alami saat ini. Jauh berbeda. Inilah yang membuatku gila.
Aku tidak selalu bahagia setiap bersamanya.
Aku tidak selalu merasa berbunga-bunga setiap bersamanya.
Aku tidak selalu merasa nyaman setiap bersamanya.
Aku tidak selalu merasa senang setiap bersamanya.
Aku tidak selalu tertawa setiap bersamanya

Aku pernah kecewa dengannya.
Aku pernah merasa sakit hati karenanya.
Aku pernah merasa sangat kesal dengannya.
Aku pernah menjadi begitu marah dengannya.
Aku pernah malas dengannya.
Aku pernah merasa sangat bosan dengannya.
Aku bahkan pernah merasa tidak ingin bertemu dengannya... lagi...
Apa itu bisa dikatakan jatuh cinta? Aku rasa tidak. Bukankah ketika seseorang jatuh cinta, ia akan selalu merasa bahagia , selalu merasa berbunga-bunga, selalu merasa nyaman, selalu merasa senang setiap kali bersama orang yang menjadi objek dari kata jatuh cinta sebagai predikatnya.
Bukankah ketika seseorang jatuh cinta, ia tidak akan menjadi kecewa, merasa sakit hati, merasa sangat kesal ataupun begitu marah dengan setiap hal yang dilakukan olehnya. Yahhh,, mungkin perasaan itu ada, namun ia bisa memberi kompensasi terhadapnya. Ia akan memberi toleransi dan cepat mengubah pikirannya. Pikiran yang menjadikan bias  bahwa ia tidak pernah salah.
Bukankah ketika seseorang jatuh cinta, ia tidak akan merasa malas atau bahkan merasa bosan dengannya. Dan pastinya tidak akan muncul pemikiran untuk tidak ingin bertemu lagi dengannya. Yang ada setiap hari hanya muncul keinginan untuk terus bertemu dan kalau bisa bersama dengannya. Bagaimanapun caranya.
Tapi bukan seperti itu yang aku rasakan. Tidak seperti itu......... dan aku benar-benar gila karenanya.
Memang,...... terkadang aku juga merasakan hal-hal indah seperti pada bait pertama dari ungkapan rasanya jatuh cinta. Namun tidak setiap hari, tidak setiap saat, tidak setiap kali saat bersamanya. Dan pastinya aku tidak akan melakukan hal-hal konyol seperti pada bait-bait selanjutnya. Aku tidak akan memberikan kompensasi dan toleransi jenis apapun. Aku juga tidak akan mengubah pola pikirku, sampai berpikir kalau dia tidak pernah salah?? Aku tidak punya sama sekali kata-kata itu dalam otak kiriku untuknya. Merasa malas, bosan dan jenuh itu sering sekali terjadi padaku. Bahkan aku sempat berpikir untuk tidak ingin lagi bertemu atau sekedar melihat wajahnya.. ini juga yang membuatku gila.
Dan ada satu hal lagi yang juga menjadi pendukung, ikut menyumbang dalam hal kegilaanku karenanya. Beberapa saat yang lalu, ada satu hal yang tiba-tiba muncul dalam pikiranku. Satu hal itu yang membuatku gelisah sepanjang malam. Satu hal itu yang membuat otakku bekerja sepanjang malam hingga menjadi hal yang sangat sulit untuk mengistirahatkannya. Dan setelah aku berhasil untuk tertidur, dia datang mengacaukan semua mimpiku hingga paginya aku harus bangun dengan perasaan tidak nyaman. Tidak berhenti sampai pagi, dia tetap saja bertahan menjangkiti seluruh jaringan otakku sepanjang hari. Sampai sampai apapun yang mencoba masuk selalu ditolak.
Kau tau apa pikiran itu???
“ Aku ingin hidup bersamanya dan menghabiskan sisa waktuku bersamanya, dan aku tidak peduli dengan apapun. Aku berpikir dia akan merubah hidupku dan membuatnya menjadi lebih baik.”
Mungkin bagi kalian itu hal yang biasa, karena pasti kalian pernah juga mempunyai pikiran seperti itu. Bagiku itu pun juga bisa menjadi hal yang biasa, jika aku punya alasan untuknya. Setidaknya ada sebab sebagai akibat munculnya pikiran semacam itu. Tapi aku tidak punya semua itu. Aku tidak tahu alasannya. Aku tidak tahu apa penyebabnya. Pikiran itu muncul begitu saja. Dia muncul dengan sendirinya tanpa tahu dari mana asal usulnya. Dia tiba-tiba saja datang tanpa tahu siapa yang mengundangnya. Satu-satunya hal yang jelas hanyalah, pikiran itu muncul tepat setelah aku diantar pulang olehnya setelah hampir 24 jam dalam hariku habis bersamanya. Itu satu-satunya hal yang aku bisa ingat. Benar-benar, sungguh-sungguh dan sangat-sangat membuatku gila.
Sekarang aku tidak tahu harus bagaimana..... dan karena ketidak tahuanku untuk melakukan apa, aku tidak akan melakukan apa-apa. Aku hanya akan menjalaninya saja, membiarkan waktu berjalan apa adanya. Karena hanya dia yang aku rasa mampu menjawab semua pertanyaanku. Aku tidak akan berusaha menebak ataupun memikirkan bagaimana ending dari kisahku ini... Karena aku tidak mampu untuk melakukannya..... Aku juga tidak akan menghakiminya atau berusaha menjalankannnya sesuai kemauanku..... Karena aku tahu ada yang sudah menjalankannya yaitu Dia. Jika di akhir nanti, aku memang harus bersamanya.... Aku akan melakukannya. Begitupun jika di akhir nanti dia harus bersama dengan orang lain dan bukan aku, aku pun akan terima. Yang jelas saat ini, karena ada satu alasan yang menuntutku untuk tetap bertemu dan bersama dengannya, aku akan menjalaninya dan menjalin hubungan tetap baik dengannya. Perasaan yang cukup membuatku tidak nyaman ini, tidak cukup untuk membuatku harus menghindarinya.... sekalipun mungkin akan lebih baik untuk melakukan itu.