(ini nyata) Beberapa
hari yang lalu, karena ada libur kuliah beberapa hari aku memutuskan untuk
pulang ke Ngawi. Dari Jogja (impianku terwujud buat kuliah di Jogja, hehe..)
aku naik bis. Nah, saat di dalam bis ada sesuatu yang menarik bagiku. Saat itu
aku duduk di samping dua orang dewasa, yaitu seorang nenek yang cucunya telah
kuliah dan seorang bapak yang anaknya akan memasuki jenjang kuliah tahun ini.
Karena duduk bersampingan dengan mereka, mau tidak mau aku harus mendengar pembicaraan
mereka walaupun sebenarnya tidak ingin. Awalnya sih aku nggak tertarik sama
sekali karena mereka hanya membicarakan tentang masuk ke perguruan tinggi
negeri (mungkin bukan nggak tertarik,
lebih tepatnya minder kali yah karena aku nggak bisa kuliah di perguruan tinggi
negeri yang membuat anak-anak gila karenanya,...). Namun aku mulai tertarik ketika
mereka membicarakan tentang kebahagiaan. Salah satu kalimat yang membuat
terbengong-bengong adalah ketika nenek itu berkata “ saking sibuknya orang mencari
kebahagiaan, sampe-sampe tidak sadar bahwa kebahagiaan itu terletak pada diri
mereka sendiri”. Ini membuatku diam sejenak dan merenung “ benar juga yah”. Dan
ini membuatku terinspirasi untuk mengorek-orek (sambel kali yah..) dan
menggali-gali (prett, dikira lubang apa...) dari sebuah kata yang sangat tidak
asing di telinga kita yaitu “ kebahagiaan”. Apa sih kebahagiaan itu
sampai-sampai semua orang buta akan hal itu? Dan dimana sebenarnya letaknya?
Bagaimana kita bisa mendapatkannya?
“Kebahagiaan” sepertinya itulah
yang ada dalam benak semua orang dan menjadi tujuan hidup mereka. Pertanyaan-
peratanyaan seperti “ dimanakah kebahagiaan itu?” juga “ bagaimana caranya agar
aku bisa memperoleh kebahagiaan?” sepertinya telah memenuhi pikiran semua
orang. Karena saking sibuknya mencari
hal itu, hingga manusia lupa arti sebenarnya dari kata “kebahagiaan”.
Ada yang bilang kebahagiaan itu
adalah ketika ketemu dengan orang yang
kita sukai. Ini buat orang yang lagi jatuh cinta. Karena alasan itu, ada
beberapa dari mereka rela mengikuti kemana pun orang yang di sukai pergi dan
mengorbankan mimpi-mimpinya... waw.
Ada juga yang bilang kebahagiaan
itu ketika si dia menyatakan cinta dengan penuh keromantisan. Kalau dia nggak
cinta, masa juga harus nyatain cinta. Dicintai dengan penuh keterpaksaan, yakin
itu membuat kita bahagia?
Ada juga yang bilang kalau
bahagia itu ketika kita mendapatkan hadiah dari orang yang spesial. Nah kalau
orang itu nggak ngasih, apa mau dipaksa? Iya, bahagia buat kita tapi menyiksa
buat dia.
Ada yang bilang juga kalau
kebahagiaan itu ketika kita bisa mendapatkan apapun yang kita inginkan. Sampai
banyak orang menghalalkan segala cara untuk bisa mendapatkannya. Tanpa mereka
sadari, bahwa mereka telah merugikan orang lain. Bagaimana itu bisa disebut
kebahagiaan jika ada orang lain yang di lukai.
Oh ya, kemarin ada yang update
status di facebook, katanya bahagia itu sederhana. Ketika kita melihat mantan
kita di PHP in sama gebetannya. Wahhhh..... kasian banget donk...
Kalau dalam kamus besar bahasa
indonesia 3 bahagia itu adalah keadaan atau perasaan senang dan tenteram (bebas
dari segala yang menyusahkan).
Sebenarnya kebahagiaan
itu adalah sebuah rasa, dan rasa itu ada
dalam diri kita. Rasa itu kita sendiri yang menciptakannya, kita sendiri yang
mengelolanya. Kita ingin sedih, maka kita juga akan merasa sedih. Kita ingin
kecewa, maka kita juga akan merasa kecewa. Begitu pula dengan bahagia, kita
bisa membuat diri kita bahagia. Banyak orang berpikir, kebahagiaan itu hanya
bisa diperoleh, ketika apa yang kita inginkan tercapai. Padahal yang membuat
kita bahagia bukan hal-hal itu. Bukan uang, bukan tahta, bukan jabatan, bukan
kemewahan. Yang membuat kita bahagia adalah rasa puas, dan rasa puas itu
diciptakan oleh diri kita sendiri.
Lalu apakah kita hanya bisa
mendapatkan rasa puas ketika semua hal yang kita tuntut bisa tercapai?
Tidak adakah jalan lain?
Tanpa itu, sebenarnya kita bisa. Dengan
menyukuri apa yang telah ada, menerima apa adanya diri kita, tanpa merasa iri
dengan orang lain. Itulah kuncinya. Dengan itu kita bisa merasa puas, dan
kebahagiaan akan selalu bersemayam dalam hati dan pikiran kita. Namun meskipun
begitu, bukan berarti kita tidak melakukan apa-apa. Karena menerima diri apa
adanya diri kita, menjadi diri kita sendiri adalah dengan memaksimalkan apa
yang ada pada diri kita. Meyukuri apa yang telah ada, juga bukan berarti kita
tidak perlu berusaha lagi. Karena rasa syukur bukan untuk menjadikan seseorang
berhenti berusaha, namun menjadikan semangat untuk lebih berusaha lagi.
Jadi, siapkah kamu merasakan
kebahgiaan setiap harinya?
Karena kamulah driver dari kebahagiaanmu sendiri...

