expr:class='"loading" + data:blog.mobileClass'>
WELLCOME IN MY BLOG..DON'T FORGET TO LEAVE YOUR COMMENT!!

Selasa, 19 Maret 2013

need you


Hari ini aku menyadari satu hal, nggak ada sahabat sebaik kamu. Nggak ada orang yang bisa mengerti aku seperti kamu, nggak ada orang yang bisa memahamiku seperti kamu, nggak ada yang bisa bener2 tulus sahabatan denganku seperti ketulusanmu, nggak ada yang bisa gantiin kamu. Meskipun aku harus nyari keujung dunia pun aku nggak bakal bisa nemuin orang yang bisa gantiin kamu. Nggak akan pernah bisa.
Kamu selalu nyuruh aku buat nggak menyerah, dan akupun lakuin itu. Tapi sekarang aku udah nggak bisa lagi, aku ngerasa nggak sanggup. Jangan lagi paksa aku buat nyari orang sebagai penggantimu. Aku udah ketergantungan sama kamu, dan aku nggak tahu apakah aku bisa lepas dari kamu.

Aku nyesel banget dulu pernah ngecewain kamu, pernah ngianatin kepercayaanmu, pernah bikin kamu marah sama aku. Dan yang paling aku sesali, kenapa dulu aku punya pikiran buat nyoba hidup tanpa kamu. Harusnya dulu aku sadar kalau nggak akan ada sahabat sebaik dan sesempurna kamu. Jika waktu bisa diulang, aku nggak akan pernah nglakuin itu, aku nggak akan pernah nyoba nglakuin hal bodoh itu lagi.
Kini semua udah terlanjur. Kita udah nggak akan bisa barengan lagi. Kita udah punya hidup masing2. Disana mungkin kamu udah dapet penggantiku, udah bisa nikmatin hidup yang indah bareng sahabat barumu, yang mungkin jauh lebih baik dari aku. Yang nggak seegois aku, yang nggak se ngambekan aku, yang nggak semanja aku, yang nggak sengrepotin aku, dan tentunya seseorang yang nggak akn ngianatin kamu seperti aku.
Disini aku benar2 ngerasa sendiri, nggak punya siapa2. Orang yang selalu bilang katanya aku sahabatnya, katanya aku udah lebih dari seorang saudara, sekarang ninggalin aku sendiri setelah punya teman baru. Mungkin dia akan kembali saat dia ngerasa butuh aku. Mungkin dia akan kembali lagi setelah dia jenuh dengan temannya. Lalu setelah jenuh, bakal pergi lagi. Apa itu arti dari sahabat? Tapi bukan itu yang aku pelajari darimu. Lalu apa aku harus menerimanya?
Aku udah nyoba ngasih kepercayaan ke dia, tapi ternyata benar, didunia ini nggak ada orang yang bisa dipercaya. Dan satu hal lagi, benar apa yang kamu katakan, selamanya manusia nggak akan pernah bisa saling mengerti. Semua orang hanya akan mementingkan dirinya sendiri. Mereka nggak pernah mikirin perasaan orang lain. Apakah orang lain akan merasa kecewa dengannya atau tidak, nggak peduli.
Rasanya aku pengen lari dari sini. Aku pengen pulang ketempat dimana aku nggak akan ngerasa sendiri. Tapi aku nggak bisa, aku punya tanggung jawab disini, ada mimpi yang harus aku capai, ada orang tua yang udah ngasih harapan besar ke aku dan aku nggak mungkin ngecawain mereka. Lalu sekarang apa yang harus aku lakuin?
Sekarang aku hanya bisa diam, sambil memendam rasa menyesal dengan sahabat lamaku (yang benar2 seorang sahabat) dan rasa kecewa dengan sahabat baruku (yang aku nggak tahu apakah layak disebut sebagai seorang sahabat). Juga sebuah kebingungan, sebuah kebuntuan dari pikiran yang selama ini aku andelin. Juga rasa lapar karena dari tadi aku nggak makan (just kidding).
Aku tahu, percuma aku nulis ini. Nggak akan merubah apapun. Nggak akan bikin kamu balik lagi. Tulisanku nggak akan nyiptain kehidupan yang kayak dulu lagi, juga nggak akan bikin aku dapetin sahabat. Dan mungkin tulisanku justru bikin kamu jadi sebel, karena satu kali lagi kamu harus dengerin keluhanku. Tapi aku nggak bisa nglakuin apa2 selain nulis, tepatnya aku nggak tahu apa yang harus aku lakuin. Setidaknya dengan ini aku bisa sedikit merasa lega. Maaf, kalau ini malah justru bikin kamu nggak nyaman. Aku nggak punya tempat lain, mungkin nggak ada yang mau dengerin keluhanku.

Ternyata buruk banget yah aku, ..........

kejenuhan


Terkadang kita memang merasa jenuh. Dengan keadaan kita, dengan orang-orang disekitar kita, dengan apa yang kita miliki, dengan apa yang harus kita hadapi, dengan tuntutan-tuntutan kehidupan yang tidak ada habisnya, dengan semua hal. Tapi bukan berarti itu menjadi alasan untuk kita lari dari mereka, lalu meninggalkannya begitu saja. Karena tidak dapat dipungkiri semua itulah yang membentuk kita. Yang menjadikan kita bisa seperti ini. Keadaan yang memuakkanlah yang membentuk kita sampai bisa seperti ini, orang-orang yang membosankanlah yang selalu menemani kita saat kita senang, susah, menangis atau tertawa. Mereka yang telah mengangkat kita ketika terjatuh, mereka yang telah menyuplai energi kepada kita ketika kita lemah, mereka yang selalu berteriak ketika kita diam dan tidak ingin bicara, mereka yang selalu memberikan semangat ketika kita mulai menyerah. Mungkin mereka akan tertawa ketika kita menangis, dan itu membuat kita jengkel, tapi mereka bukan mengejek kita, mereka ingin kita bisa ikut tertawa bersama mereka dan melenyapkan kesedihan dan duka dihati. Mungkin mereka akan menyepelekan karya kita, itupun juga membuat kita muak, tapi bukan itu maksud mereka, mereka ingin kita berkarya jauh lebih baik lagi. Mungkin mereka justru terus saja mengajak mengobrol ketika kita ingin diam, ini juga akn membuat kita marah, tapi satu yang ada dibenak mereka, mereka ingin kita tetap ceria menghadapi apapun rintangan dan seolah ingin mengatakan “aku selalu ada untukmu”. Tapi mereka justru akan diam ketika kamu mengeluh, membuat kita merasa tidak dihargai, tapi lagi-lagi bukan itu yang ada dibenak mereka, mereka ingin kita berhenti mengeluh karena itu membuat orang lain tidak nyaman bersama kita, bukankah itu juga untuk kebaikan kita? Tanpa kita sadari, semua hal yang mereka lakukan adalah untuk kebaikan kita, namun kita selalu memandang itu sebagai sebuah keburukan yang membuat kita marah dengan mereka dan akhirnya memutuskan meninggalkan mereka. Saat itulah kita sedang melepaskan kebahagiaan yang mungkin tidak bisa dapatkan ditempat lain. Kita berpikir ini akan menyelesaikan masalah, kita berpikir setelah ini kita akan bebas dari orang-orang seperti mereka, kita berpikir kiata akan mendapatkan kehidupan yang jauh lebih menyenangkan. Pikiran-pikiran itu yang selalu mengikat kita, membutakan kita, membuat kita merasa sangat lega, tanpa kita sadari justru pikiran itulah yang akan membuat kita jatuh, membuat kita hilang, menyesatkan. Di tempat lain kita coba mencari orang-orang baru, mencoba bergabung dengan mereka, tapi bisakah kita mendapatkan orang-orang sebaik mereka? Kita masih tetap mencari, lalu kita menemukan orang yang kita anggap cocok. Mempercayai mereka, mengikuti mereka, sampai akhirnya kita menjadi orang yang benar-benar bodoh. Saat kita jatuh mereka tidak peduli, saat kita sedih mereka akn tertawa tapi itu tawa ejekan, saat kita lemah mereka akn meninggalkan kita begitu saja. Saat itulah kita baru sadar ternyata mereka, orang-orang yang sangat memuakkanlah yang paling baik dan bisa mengerti kita. Kita berpikir untuk kembali, tapi kita takut. Tapi jika tidak kembali, harus lari kemana lagi. Lalu kita putuskan untuk kembali, tapi mereka terlanjur terluka. Mereka merasa kita hianati dan masih menyimpan rasa itu. Mereka tidak bisa mempercayai kita lagi. Namun betapa besar hati mereka, mereka tetap menerima kita meskipun dengan rasa kecewa. Mereka coba menghapusnya dan berusaha mempercayai kita lagi. Tapi satu hal yang jelas, cermin yang sudah pecah meskipun coba disatukan kembali, tidak akan bisa kembali utuh dan sesempurna dulu lagi. Masih ada goresan yang selamanya tidak bisa hilang. Begitu pula dengan sebuah kepercayaan, saat kita telah menghianatinya, meskipun mereka berusaha menyatukan kembali kepercayaan mereka, tetap akan ada goresan yang tidak akan hilang selamanya. Waktu pun tidak akan sanggup menghapusnya. Dan jika satu kali lagi kita menjatuhkannya, ia tidak akan bisa disatukan kembali. Lebih gelisah mana, membawa cermin yang utuh sempurna atau cermin yang sudah penuh dengan perekat dan goresan? Bagaimana jika perekat itu sudah tidak berfungsi lagi? Bagaimana jika nanti mereka akan runtuh satu per satu? Apa yang bisa kita lakukan selain menyesal? Karena itu, jangan pernah sia-siakan apa yang ada di sekitar kita. Meskipun kita jenuh, cobalah untuk tetap bertahan. Kita pasti bisa mengalahkan rasa jenuh itu, itu tidak akan bertahan lama. Jangan pernah kita melakukan hal bodoh hanya karena rasa jenuh yang hanya sementara. Penyesalan selalu datang di akhir, bahkan setelah kita merasa senang.